Menu

Ihwal Pandangan Keagamaan KH Said Aqil

  Dibaca : 246 kali
Ihwal Pandangan Keagamaan KH Said Aqil
KH Said Aqil (selanjutnya disebut Kiai Said) belum lama ini mengemukakan pandangan keagamaan yang banyak ditanggapi kiai Nahdliyin sendir

Rakyatbicara.co.id

Faisal Ismail 
Guru Besar Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

KETUA Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj (se­lan­jut­nya disebut Kiai Said) belum lama ini me­nge­mukakan pandangan ke­aga­ma­an yang banyak ditanggapi oleh kiai Nahdliyin sendiri. Para kiai Nahdliyin menanggapi Kiai Said untuk menjernihkan poin-poin pandangan keagamaan be­liau yang dinilai tidak pas. Patut diapresiasi sorotan kritis para kiai Nahdliyin terhadap pandangan keagamaan Kiai Said.

Tulisan ini akan men­dis­ku­sikan dua poin pan­da­ngan ke­aga­maan Kiai Said, yai­tu ten­tang iblis yang diandaikan ikut salat berjamaah dan tentang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang disebut belum di­ta­nyai Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Terus te­rang saya tidak ahli hukum Is­lam (sya­riah). Spesialisasi ke­ilm­uan saya adalah sejarah so­sial Islam. Saya hanya akan meng­gunakan lo­gi­ka sebagai pisau analisis.

Sebelum Kiai Said me­nge­mu­kakan pengandaiannya ten­­tang iblis ikut salat berjamaah, beliau menjelaskan perbedaan posisi kedua tangan dalam sal­at setelah seseorang me­la­ku­kan tak­biratul  ihram. Misalnya me­nu­rut mazhab Syafi’ie, ke­dua ta­ngan diletakkan di pusar (di perut) seperti praktik yang la­zim dikerjakan oleh ke­ba­n­yak­an umat Islam di In­do­nesia.

Me­nurut mazhab Ha­n­bali yang biasanya diikuti kaum Wahabi, posisi kedua tangan mirip se­per­ti posisi kedua tangan ala maz­hab Syafi’ie, tetapi diangkat lebih ke atas sampai ke dada di­sertai dengan posisi kaki para ja­maah (dalam salat jamaah) yang rapat sehingga tidak ada celah di antara me­re­ka. Posisi kaki para jamaah salat yang rapat men­ce­gah iblis (setan) tidak bisa ma­suk ke da­lam shaf.

Seandainya Iblis Ikut Salat

Setelah mengemukakan ilus­trasi di atas, Kiai Said lantas me­ngatakan, “seandainya” ib­lis ma­suk ke dalam shaf  dan ikut sa­lat berjamaah, saya kata be­liau serius dan man­tap ma­lah ber­syukur. “Pengandaian” Kiai Said mustahil terjadi. Mohon tidak berandai-andai dalam hal doktrin agama yang sangat mendasar, esensial, dan fun­da­mental. Maaf, cara pandang, premis, dan logika apa yang Pak Kiai pakai? Iblis sangat mus­ta­hil akan ikut salat (berjamaah).

Iblis dan setan turunannya ada­lah makhluk yang telah di­kutuk oleh Allah sampai akhir zaman dan menjadi musuh be­buyutan bagi manusia se­pan­jang masa dan sepanjang bua­na. Itulah sebabnya, setiap mus­lim dan muslimah ketika hendak melakukan pekerjaan di­ajarkan untuk membaca “au­dzubillahi minasy syai­tha­ni­r­rajim”  (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) karena setan men­ja­di musuh abadi manusia.

Kutukan dan laknat Allah terhadap iblis bermula ketika Allah memerintahkan semua ma­laikat bersujud kepada Adam. Para malaikat taat dan bersujud ke­pa­da Adam, kecuali iblis. Ke­tika Allah bertanya kepada iblis me­nga­pa dia tidak mau ber­su­jud ke­pada Adam, iblis dengan angkuh, sombong, dan congkak men­ja­wab bahwa dirinya yang di­cip­ta­kan dari api jauh lebih mulia dari­pada Adam yang di­ciptakan dari tanah. Karena in­g­kar, takabur, dan mem­bang­kang, iblis dan se­tan tu­run­an­nya dikutuk dan di­laknat Allah sampai akhir zaman.

Iblis inilah yang menggoda Adam dan Hawa di surga yang mengakibatkan keduanya di­tu­runkan Allah ke bumi. Sam­pai ke akhir zaman, pekerjaan iblis dan setan hanya meng­go­da ma­nu­sia dan men­je­ru­mus­kannya ke jalan kekafiran, ke­musyrikan, kesesatan, ke­mung­karan, ke­dur­hakaan, k­ef­a­si­kan, keja­hat­an, kemaksiatan, kem­unafikan, kekejian, dan perbuatan dosa. Bagaimana mungkin makhluk yang sangat di­kutuk dan dilaknat Allah sam­pai akhir zaman di­andaikan Kiai Said ikut salat ber­jamaah. Sungguh pe­ngan­daian Kiai Said tidak masuk akal dan su­dah di luar ajaran agama.

Malaikat Belum Menanyai Gus Dur

Gus Dur terkenal sebagai tokoh pen­ting NU dan di­kenal sebagai sosok pluralis, in­klusif, hu­­ma­nis, dan sangat kon­sen me­lin­dungi kelompok-ke­lom­pok mi­noritas di negeri ini. Gus Dur men­ja­bat sebagai Presiden RI ke-4 (1999-2001). Pada 30 Desem­ber 2009, Gus Dur wafat di Ja­karta dalam usia 69 tahun dan dimakamkan di kota ke­la­hir­an­nya, Jombang.

Sampai sekarang (2018), sudah 8,5 tahun Gus Dur wafat. Ku­run waktu 8,5 tahun sudah ter­hitung lama bagi wafatnya seseorang. Dalam pandangan keagamaan Kiai Said, sampai sekarang ini Malaikat Mung­kar dan Nakir masih antre dan be­lum menanyai Gus Dur di alam kubur, tentang misalnya, siapa Tuhanmu ( Man Ra­bbuka)  dan pertanyaan-pertanyaan lain sesuai tugas malaikat.

Me­nga­pa? Kiai Said berdalil ka­re­na ma­kam Gus Dur di Jombang tidak pernah sepi dari peziarah, se­men­tara malaikat me­nung­gu se­pinya para peziarah untuk me­nanyai Gus Dur di alam ku­bur. Jadi malaikat, menurut ja­lan pikiran Kiai Said, masih an­tre dan belum punya peluang me­nanyai Gus Dur akibat arus peziarah yang terus menerus berdatangan ke makamnya. Lo­gi­ka, premis, dan persepsi apa yang Kiai Said pakai dalam men-judge  bahwa Gus Dur di alam kubur belum ditanyai malaikat?

Saya tidak sependapat de­ngan Kiai Said dengan ar­gu­men be­rikut ini. Pertama, tugas Ma­lai­kat Mungkar dan Nakir yang di­berikan Allah untuk me­na­nyai seseorang di alam kubur ada­lah urusan gaib. Kiai Said kok bisa mengetahui secara pasti bah­wa malaikat sampai se­ka­rang belum menanyai Gus Dur di alam ku­bur?

Kedua, ti­dak ada exception apa pun al­a­sannya, ti­dak ada spe­cial treat­ment  ke­pada siapa pun orang­nya, semua orang (ter­ma­suk Gus Dur) yang meninggal dan dikubur akan cepat ditanyai ma­laikat. Ketiga, setelah je­na­zah seseorang di­ma­kam­kan ter­ma­suk je­na­zah Gus Dur pasti ada masa sepi, yaitu ke­tika para pe­ngantar jenazah (pe­takziah) su­­dah mening­gal­kan makam.

Pa­da saat itu, ma­laikat me­lak­sa­na­kan tugasnya. Pernyataan Kiai Said bahwa sampai se­ka­rang (su­dah 8,5 tahun berlalu) malaikat masih antre dan belum me­na­nyai Gus Dur di alam ku­bur ada­lah fiksi bukan realitas.(red/maf)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!




Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional