Menu

PKL Berjualan’ Penguna Trotoar Bersaing Dengan Kendaraan Di Gorontalo Jakut

  Dibaca : 238 kali
PKL Berjualan’ Penguna Trotoar Bersaing Dengan Kendaraan Di Gorontalo Jakut

Jakarta, RakyatBicara.co.id – Trotoar di sepanjang Jalan Gorontalo I, Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dikuasai pedagang kaki lima (PKL). Hal ini sangat mengganggu para pejalan kaki yang mestinya menikmati fasilitas yang baru diperbaiki dengan menggunakan APDB tersebut.

Yudi(26), pejalan kaki, mengaku hampir sepanjang hari, terutama sore, pedagang menggelar lapak atau gerobak dagangannya di trotoar. Akibatnya, banyak pejalan kaki terpaksa melintas di badan jalan, bersaing dengan kendaraan bermotor.

“Bagaimana mau lewat kalau lapak dagangannya ditaruh di trotoar, kadang kalau kita lewat juga malah galakan dia (pedagang),” keluhnya, pada saat wawancara kepada RakyatBicara.co.id.

Ia berharap petugas kelurahan, kecamatan atau Satpol PP segera menertibkan kawasan itu agar fungsi trotoar kembali normal, Kamis (21/11).

Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas mengatur soal hak dan kewajiban pejalan kaki. Pasal 131 berbunyi, “(1) Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.”

Pasal 132 juga mengamanatkan hal yang sama, bunyinya, “(1) Pejalan Kaki wajib: a. menggunakan bagian Jalan yang diperuntukkan bagi Pejalan Kaki atau Jalan yang paling tepi.”

“Kalau misalnya pejalan kaki tidak jalan di trotoar terus kecelakaan, yang dipidana siapa? Pejalan kakinya? Pengendaranya? Pedagang kaki limanya?”.

Selain UU Lalu Lintas, telah juga menyebut pada Perda Nomor 7 Tahun 2008 tentang Ketertiban Umum. Pasal 25 berbunyi, “(1) Gubernur menunjuk/menetapkan bagian-bagian jalan/trotoar dan tempat-tempat kepentingan umum lainnya sebagai tempat usaha pedagang kaki lima. (2) Setiap orang atau badan dilarang berdagang, berusaha di bagian jalan/trotoar, halte, jembatan penyeberangan orang dan tempat-tempat untuk kepentingan umum lainnya di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).”

Menanggapi hal itu, Lurah Sungai Bambu, Sumarno, mengatakan banyak pedagang menyewa tempat tinggal kepada warga setenpat. Jadi awalnya pedagang itu ngontrak rumah, kemudian buka lapak buat jualan,” ucapnya.

Untuk masalah ini, sambungnya, ia mengaku sudah mengimbau para pedagang agar lapak tempat usahanya tidak menutupi trotoar.

Kita juga memang ada toleransi ke pedagang. Mereka diperbolehkan berjualan pada sore, karena pada saat itu tidak terlalu mengganggu lalu lintas,” katanya. (Tim).

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!




Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional