Menu

Keprihatian Dewan Komisioner Komnas Perlindungan Anak Dalam Dugaan Kasus Penganiayaan Dan Perundungan Siswi SMP Di Pontianak

  Dibaca : 276 kali
Keprihatian Dewan Komisioner Komnas Perlindungan Anak Dalam Dugaan Kasus Penganiayaan Dan Perundungan Siswi SMP Di Pontianak

Jakarta, Rakyatbicara.co.id – Seluruh Dewan Komisioner Komnas Perlindungan Anak sangat menyayangkan dan prihatin terhadap peristiwa penganiayaan, perundungan juga persekusi yang dilakukan 12 orang siswi SMA secara bergerombol terhadap seorang siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat mengakibat korban mengalami sakit, trauma, dan depresi berat, yang terjadi pada 29 Maret 2019.

Setelah Tim Relawan Sahabat Anak Indonesia untuk wilayah kerja Kalimantan Barat mendapat data dan kepastian peristiwa perundungan ini, Komnas Perlindungan anak sangat menyayang dan mengambil sikap bahwa penganiyaan, perundungan, persekusi diikuti kekerasan seksual yang dikakukan 12 geng siswi ini tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat manusia lagi.

Oleh sebab itu, mengingat pelaku masih dalam status usia anak dan dalam perspektif perlindungan anak masih memerlukan perlindungan, sebagaimana diatur dalam ketentuan UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Distim Peradilan Pidana Anak (SPPA), junto UU RI No. 35 Tahun 2014 tetang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perindungan Anak, Komnas Perlindungan Anak mendorong Penegak hukum yakni Polresta Pontianak yang menangani perkara penganiayaan dan perundungan terhadap siswi ini menggunakan pendekatan keadilan restoratif dalam proses penyelesaiannya,demikian disampaikan Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait kepada pekerja media menanggapi kasus perundungan yang diduga dilakukan 12 siswi SMA terhadap siswi SMP di Pontianak di Studio Komnas Anak TV dibilangan Pasar Rebo Jakarta Timur Rabu (10/04/2019).

Tanggapan keprihatinan serupa juga  disampaiakan oleh Bimasena, S.H, M.Si, M.In Selaku Dewan Pembina yang selalu menjadi penggerak relawan-relawan perlindungan anak di Indonesia.

Arist Merdeka Sirait menambahkan bahwa dengan pendekatan keadilan restoratif tersebut selain meminta pertangungjawaban hukum para pelaku atas tindakan pidananya, pihak kepolisian Polresta Pontianak juga bisa menggunakan pendekatan “diversi” terhadap pelaku berupa sanksi tindakan seperti saksi sosial guna memulihkan harkat dan harga diri korban yang telah dilecehkan dan berdampak efek jera, misalnya dengan cara para pelaku meminta maaf secara terbuka kepada korban dihadapan orangtua dan penegak hukum, misal minta maaf dan diikuti dengan mencium kaki korban.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh kita semua orangtua, masyarakat, dunia pendidikan dan pemerintah termasuk alim ulama, ada apa dengan keluarga dan lingkungan, karena munculnya perilaku dan perbuatan sadis ini tidak berdiri sendiri. Bisa saja karena terinpirasi dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya atau terinpirasi tayangan-tayangan yang tidak edukatif Sebab dunia anak adalah meniru yang ada disekitarnya.

Kejadian ini, Polresta Pontianak bekerja keras mengungkap dan menangani kasus kekerasan ini dan telah memeriksa orang tua korban dan dua saksi atas peristiwa penganiayaan ini yang berada dilokasl kejadian.

Oragtua korban baru melaporkan perkara perindungan ini setelah 2 minggu peristiwa ini terjadi, karena korban terus menerus diancam oleh pelaku. Namun karena berdampak pada menurunnya kesehatan korban, dan sudah mampu menahan sakit, akhirnya korban menceritakan kepada ibuya.

Pertiwa yang dialami siswi Sekolah Menengah pertama di kota Pontianak Kalimantan Barat berniasial A (14) menjadi perhatian publik setelah dirinya dianiaya oleh 12 orang pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) pada Jumat 29 Maret 2019 lalu di jalan Sulawesi dan Taman Jaya Kalimantan Barat. (Red).

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!




Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional