Menu

Menjadi Bangsa Yang Bersatu, Bermartabat, Dan kuat Suatu Proses Dialogis Yang Harus Terus Menerus Berlangsung

  Dibaca : 46 kali
Menjadi Bangsa Yang Bersatu, Bermartabat, Dan kuat Suatu Proses Dialogis Yang Harus Terus Menerus Berlangsung

karta, Rakyatbicara.co.id – Memang orang non Papua yang punya nurani dan keberanian moral saja yang bicara jujur. Jumlah mereka tidak banyak. George Orwell dalam bukunya “On truth” menjelaskan bahwa di daerah jajahan Inggris seperti India dan Birma pada waktu itu dia sendiri mengalami bahwa para pejabat Pemerintah Inggris takut bicara jujur dan terbuka tentang keadaan yang sebenarnya, sedang terjadi di jajahan itu karena takut dicopot dari jabatannya.

Sayangnya, Papua kita perlakukan seperti wilayah taklukan dan para pejabat Pemerintah Indonesia jarang mau bicara jujur mengungkapkan apa yang sedang terjadi di Papua selama lebih dari 56 tahun. Ada kenyataan pahit yang kita sembunyikan rapat-rapat. Pejabat-pejabat pemerintah Indonesia yang pernah sedikit bicara jujur adalah Jenderal Kahpi Surjadireja, Jenderal Acub Zainal dan Jenderal Polisi I Made Pastika.

“Ini yang saya tahu. Selain itu para peneliti LIPI seperti mendiang Muridan dan kawan-kawan yang melahirkan “Papua Road Map” yang mungkin sudah lama dibuang di tong sampah karena berani mengungkapkan kebenaran dan akar permasalan di Papua. Kita sebut orang Papua adalah “sodara sodara kita” tetapi memperlakukan mereka seperti rakyat di wilayah pendudukan dengan menggunakan kekuatan bersenjata.

Inilah bentuk bentuk diskriminasi yang menyakitkan dan merendahkan martabat dan harkat kemanusiaan “sodara sodara Papua kita.”,” demikian diutarakan Simon morin dalam perbincangannya dengan Rakyatbicara di Jakarta, Senin (9/9/2019).

Politisi Indonesia dari Papua yang juga Mantan anggota DPR RI 1992-2009. Mantan anggota DPRD PROVINSI IRIAN JAYA 1982- 1992 mantan pegawai negeri.
Di jelaskan Simon, Insiden Nduga yang melahirkan ribuan rakyat Nduga yang tidak berdosa menjadi pengungsi di negerinya sendiri.

Rakyat Nduga kata Simon, dibiarkan hancur dan sekarang kita mulai dengan Deyai yang beberapa warga OAP-nya kita tembak mati dan mungkin saja menciptakan krisis kemanusiaan menyusul Nduga. Dalai Lama pemimpin Tibet di pengusian pernah berkata “bila anda tidak bisa menolong mereka, jangalah sakiti hati mereka.” Bila kita tidak ikhlas menolong orang Papua jangan sakiti hati mereka dan bahkan membunuh mereka di kampung halamannya sendiri. Ini tragedi kemanusiaan di abad-21, urai Simon.

Menurut pandangan Simon, sebagai Bangsa yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, marilah bersama-sama renungkan realitas-realitas ini sambil mengujinya dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Sebab sesungguhnya apa yang menimpa rakyat Nduga nampaknya bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan kelima sila dari Pancasila.Apakah penderitaan rakyat Nduga pantas terjadi di tengah bangsa yang Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa..?

Foto : Simon Morin (Politisi Indonesia dari Papua), Rakyatbicara.co.id.Apakah penderitaan rakyat Nduga pantas terjadi di tengah bangsa yang ber-Perikemanusiaan Yang adil dan Beradab? Apakah penderitaan rakyat Nduga pantas terjadi di tengah bangsa yang ber-Persatuan Indonesia? Apakah penderitaan rakyat Nduga pantas terjadi di tengah bangsa yang ber-Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan namun terkesan tidak mau mempertimbangkan usul dan pendapat yang berbeda dari para pemimpin Papua dan rakyat Nduga yang menjadi korban? Apakah penderitaan rakyat Nduga pantas terjadi di tengah bangsa yang menyebut diri ber-Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia?, “Saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana untuk menerangi hati dan pikiran kita agar merenungkan hal ini tanpa menyalahkan siapa-siapa.

Dari perspektif Pancasila pertanyaan mendesak yang patut ditujukan kepada para pemimpin bangsa kita adalah: Kapan konflik Nduga akan diselesaikan dengan Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan secara bermartabat dan manusiawi?Ataukah kita sudah tidak memiliki lagi pemimpin-pemimpin yang sanggup bermusyawah dengan rakyatnya sendiri di Tanah Papua karena lebih nyaman mendahulukan pendekatan keamanan yang eksesif untuk membungkam rakyat Nduga yang berbeda dengan kita dan tidak kita fahami,” paparnya.

Ditegaskan Simon, Kondisi Papua dan khususnya Nduga hari ini adalah ibarat luka busuk yang terkesan kita tutup-tutupi dengan perban tanpa membersihkan dan mengobati lukanya dan berharap lukanya akan sembuh dengan sendirinya. “Kita lupa bahwa luka busuk ini baunya sudah menyebar ke mana-mana dan boleh jadi infeksinya telah membuat tubuh kita mulai sakit dan demam.

Sebagai bangsa yang bermartabat jangan kita biarkan kondisi ini berlarut-larut sampai ada pihak lain memperlihatkan keperduliannya terhadap keselamatan mereka barulah kita marah atau reaktif. Menolong saudara-saudara kita rakyat Nduga harus terjadi bukan karena ada pihak luar yang mempersoalkannya tetapi karena mereka adalah saudara kita sendiri yang patut ditolong dengan sepenuh hati tanpa embel-embel politik, “ imbuhnya.

Dalam kasus Nduga kata Simon Morin men jelaskan, bangsa ini masih mengedepankan pendekatan keamanan karena mungkin para pengelola negara belum mampu merumuskankan cara-cara yang Pancasilais untuk menyelesaikan konflik di Papua dan khususnya konflik Nduga. Para pemimpin terkesan marah karena ada segelintir pengganggu yang mengusik kebanggaan nasional sebagai bangsa besar.

“Kita terpancing dan terjebak untuk mengikuti cara-cara mereka dengan menggunakan kekerasan. Padahal kesempatan ini dapat kita gunakan untuk menarik simpati rakyat Nduga ke pihak kita dan mengisolasi kelompok tersebut,” katanya.

Simon Morin berpandangan, berbagai kasus kekerasan di Papua yang tidak mampu diselesaikan secara adil dan bermartabat merupakan bukti “kegagalan ideolgis” selama lebih dari lima dekade integrasi Papua dengan Indonesia. Dinamakan “kegagalan ideologis” karena bangsa ini masih mengedepankan pendekatan keamanan dalam menyelesaikan konflik di Papua.

Padahal kata Simon, mestinya bangsa ini menggunakan kekuatan dan daya tarik ideologi Pancasila untuk meyakinkan orang asli Papua tentang makna menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang ber-ideologi Pancasila dalam kata dan perbuatan, pungkasnya.

Pada usia 74 tahun ini kata Simon, para pemimpin bangsa ini harus sadar bahwa mempersatukan suatu bangsa yang multi-etnik dan multi-kultural seperti Indonesia menyangkut urusan membangun saling pengertian, saling mengakui dan menghargai eksistensi masing-masing kelompok, ada ruang kebebasan menyatakan pendapat yang berbeda dan ada pemimpin yang mau mendengar serta ada ruang hidup bagi masing-masing.

Kita bersatu bukan karena yang banyak mendominasi yang sedikit atau yang kuat mendominasi yang lemah. Proses menjadi bangsa yang bersatu, bermartabat, dan kuat adalah suatu proses dialogis yang harus terus menerus berlangsung, baik lintas suku, lintas agama maupun lintas generasi, pintanya. (Parulian).

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!



Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional