Menu

Tuhan Buka Jalan Bagi Saya

  Dibaca : 15 kali
Tuhan Buka Jalan Bagi Saya
Foto : Prof. DR. dr. James Tangkudung, Sportmed, M.Pd, (Rakyatbicara.co.id).

Jakarta, Rakyatbicara.co.id – Mengenal lebih dekat Putra Kelahiran Sulawesi Utara (Sulut), anak pasangan Wolter Tangkudung dan Sintje Kamasi asal Kendis Tondano. Dia adalah Prof. DR. dr. James Tangkudung, Sportmed, M.Pd. Bapaknya seorang pejuang. Bapaknya sering menceritakan bagaimana berjuang melawan belanda, bagaimana berjuang melawan penjajah jepang, Teman-teman banyak yang mati, bapak saya masih selamat.

“Dia yang menanamkan kepada saya berbuatlah terbaik capai cita-cita mu, dengan engkau bersekolah, dengan engkau berbuat terbaik pasti sudah berbuat baik untuk bangsa dan negara. Bukan hanya untuk keluarga, Cinta tanah air itu yang menanamkan nasionalis.

Dan kita juga di glorakan oleh Soekarno, dengan lagu Indonesia Raya, dan saya juga pegang olah raga juga. ada kebangga bendera merah putih bisa berkibar di kanca dunia atas prestasi olahraga yang membanggakan bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu Soekarno bikin olahraga Se-Asia Afrika. Salah satu cara untuk untuk rasa nasionalisme kita dibuatlah Stadiun Utama Senayan,” tuturnya mengawali perbincangan santai bersama Rakyatbicara.co.id di Jakarta, Selasa (8/10/2019).

James begitu panggilannya, menamatkan bangku sekolah di SMA 13 Tanjung Priok Jakarta Utara. di Bangku sekolah pun james Tangkudung sudah mengalir darah berorganisasi. dirinya menjadi pemimpin Osis di sekolah hingga tamat sekolahnya disana. “Saya dulu ketua osis. Saya nggak taunya, dimana-mana terpilih terus menjadi pemimpin. Karena saya berbuat baik,” pungkasnya.

Selesai menampatkan bangku SMA-nya James mencari peruntungan untuk kuliah ke luar negeri. Karena melihat orang banyak kuliah keluar negeri dirinya pun ikut-ikutan untuk mendaftarkan diri juga. “Karena orang suka keluar negeri saya ikut-ikutan saya mendengar bahwa di Jerman itu sekolahnya gratis. Saya ikut-ikutan masuk. Bahwa saya tau bebas untuk sekolah disana. Saya ambil sekolah dokter umum di Jerman. Saya lulus SMA tahun 1972, saya waktu masuk ke dokteran UI tidak diterima.

Di Jerman saya bersaing dengan negara lain, karena masuk ke dokteran susah. Pembelajaran saya waktu tidak di UI mati- matian, karena bapak saya bilang, kamu mau sekolah di luar saya dukung, tapi harus dapat. Artinya, bapak dan ibu serta keluarga mu mendoakan dan memberikan tiket untuk pergi, selanjutnya kamu harus bisa hidup. Kalau ada masalah baru minta uang. Selagi bapak mu pegawai masih bisa,” ujarnya.

Mengenang pesan dari kedua orangtuanya.
Berjalannya waktu, James mengikuti tes untuk masuk kuliah di Jerman. dimana harus bersaing dengan mahasiswa seluruh dunia, selain orang Jerman ada orang Korea, Jepang dan negara lainnya yang mau masuk ke dokteran. Itu ada kuotanya untuk Asia sekian persen, untuk Jerman sendiri sekian persen. “Saya lulus terbaik.

Sehingga punya hak untuk kedokteran dimana aja. Jadi semua ada aturannya. Jadi kalau lulusan yang terbaik terserah mau ambil kedokteran dimana pun berada. Kita masuk gratis dan dapat asuransi mahasiswa sakit apa pun semua gratis,” pungkasnya mengenang.

Dan yang membanggakan James di Jerman pun dirinya di pilih menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia. Banyak benturan-benturan yang dia hadapi dalam berorganisasi. namun dirinya enjoy saja untuk menjalankannya. Karena dirinya yakin saja bahwa Tuhan selalu menjaga dan membimbing dirinya untuk berbuat baik dan bertanggjawab atas segala kepemimpinan untuk memimpin banyak orang. “Itulah yang membangun motofasi saya untuk membangun Bangsa ini dengan berorganisasi dengan benar.

Sehingga teman-teman yang kritis sama saya memberikan apereasi dengan saya. Karena saya berbuat baik, Tuhan buka jalan bagi saya. Ketika musibah Tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 yang menelan lebih dari 126.000 korban jiwa, James tangkudung tercatat sebagai seorang dokter yang bergabung dalam Relawan Medis.

Mereka diberangkatkan dengan menggunakan pesawat Hercules untuk membantu masyarakat Aceh dalam perawatan korban dan pedistribusian obat-obatan. disanalah saya bertemu Menpora Adhyaksa Dault. Dirinya diminta oleh Menpora Adhyaksa Dault untuk menduduki tempat strategis dalam pembinaan olah raga nasional sebagai Eselon II, Asisten Deputi Pembinaan Olahraga.

Jabatan yang strategis di tengah carut marutnya prestasi olah raga nasional yang harus segera diperbaiki dengan kepedulian pada kondisi para atlit yang sudah membawa nama Bangsa.

Di masa mudanya sosok James Tangkudung menghabiskan studi di Universitas di Jerman untuk bidang sports medicine. bagi James, itu tidak menjadi suatu hambatan pada saat kembali ke tanah air untuk membangun masyarakatnya terutama dalam prestasi di bidang olahraga.

Hanya saja, rasa kepeduliannya terhadap bangsa justru bukan diawali oleh bidang yang menjadi keahliannya, dimana pada saat terjadi Insiden 2 Mei 1998 yang meletup pertama kali di depan kampus IKIP.

Untuk mengingatkan bersama, bahwa sospk James Tangkudung yang pemberani awal dari terbukanya gerbang Senayan pada peristiwa 18 Mei 1998 untuk diduduki oleh Mahasiswa dengan satu tujuan menggulingkan rezim Orde Baru (Orba).

“Saya adalah mahasiswa IKIP Rawamangun (sekarang UNJ) yang paling tua,” saat itu beliau sedang menjalani studi S3 dan menjabat sebagai Presiden dalam Forum Mahasiswa Pasca Sarjana IKIP Jakarta. Bersama dengan Rektor IKIP meminta aparat membuka gerbang Gedung DPR/ MPR Senayan dan memasang pertama kali spanduk raksasa berwarna hitam dengan ukuran 18 meter yang bertuliskan “Milenium Baru, Presiden Baru”. walaupun pada sat itu aparat keamanan yang sudah siap dengan mocong senjatanya, namun James tidak mundur selangkah pun untuk tetap maju terus untuk berteriak dan memberi semangat kepada rekan-rekan Mahasiswa untuk maju terus.

Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan beberapa mahasiswa IKIP Rawamangun tersungkur di selokan Rawamangun, saat mahasiswa melakukan demostrasi terhadap penembakan beberapa mahasiswa Trisakti, ujarnya mengenang atas keberaniannya untuk bangsa.

Sepulang dari Jerman, James bergabung masuk ke organisasi DPP KNPI di tahun 1980. jadi tidak aneh banyak yang sudah mengenal sepak terjang dari James Tangkudung. Dari kalangan pejabat yang sekarang sudah duduk di Menterui hingga DPR pun banyak yang mengenal dirinya.

Sewaktu di KNPI yang di pimpin Didiet Heriyadi dimana Sekjennya waktu itu masih Cahyo Kumolo yang sekarang Menteri Dalam Negeri. “Puji Tuhan entah dimana-mana saya dipilih jadi ketua. Sampai sekarang saya menjadi Ketua Komite Pasca Sarjana UNJ. Di bawah saya membawahi prodi S2 segala macam jurusan dan S3. Saya ketua komitenya. Sampai sekarang umur saya sudah 67 tahun tinggal 3 tahun lagi saya baru pensiun,” tuturnya.

Bagi James Tangkudung semua yang dirinya geluti hingga saat ini tujuannya adalah menolong orang. Menolong negara, menolong orang. ini semua dia lakukan sama seperti merasa menolong keluarga. “Anak anak saya sudah jadi semua dan sudah berkeluarga dan di karunia Tuhan cucu. Anak ada 4. tak hanya organisasi saja, saya pun dipercaya memimpin di menjadi ketua RT. Dua periode dilingkungan rumahnya. Dan yang lebih membanggakan lagi dirinya menjadi penatua di GPIB.

Jadi saya dari dulu mengabdi kepada, selain keluarga dan masyarakat. Jadi saya sudah benar-benar merasakan bagimana berorganisasi yang benar dan betul sehingga orang-orang percaya dan menghargai saya. Jadi kalau soal jabatan itu amanah.

Tuhan katakan, disitu jalan mu, saya siap, dan saya akan berikan yang terbaik sesuai dengan perintah bawahlah terang, dan damai sejahterah dan kasihi sesamamu manusia. Semua tersurat di Alkitab disana tersurat perjalanan hidup kita. Dan untuk kebahagiaan saya ada dalam Filipi 4:4-9. Itu pegangan hidup saya,” tuturnya.

Bagi James Tangkudung, mari bersama-sama untuk saling damai sejahterah, rukun bersama, dan saling gotong royong. Itulah prinsip-prinsip budaya Bangsa Indonesia. Apa kita lupa dengan itu. Kita ciptakan saling membantu, menolong siapa pun golongannya. Satu kerbersamaan.

“Saya senang dalam menjalankan hidup ini karena itu semua perintah Tuhan. Kasihilah sesama-mu manusia seperti kamu mengasihi diri mu sendiri. Disemua agama itu diajarkan, kalau kita memberikan kebaikan semua dapat pahala. Dan itu akan berimbas kepada keluarga dan keturunan kita dapat menolong orang lain.

Apa yang saya buat ini akan turun keturunan saya nanti kelak. Sehingga keluarga saya ini terbuka terus jalannya,” ujarnya menutup perbincanganya. (Red, Lian Tambun).

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!



Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional