Menu

Dengar Kesaksian Lala, JPU Pembayaran Tak Sesuai Faktur

  Dibaca : 152 kali
Dengar Kesaksian Lala, JPU Pembayaran Tak Sesuai Faktur

Bogor, Rakyatbicara.co.id – Sidang lanjutan kasus dengan terdakwa Lala yang berlangsung di ruang Asikin Pengadilan Negeri Cibinong kelas 1A, dengan agenda mendengarkan kesaksian Lala, Selasa (07/04/2020) pada pukul 13.25 WIB, sidang yang berlangsung secara online Telekonfrens melalui Aplikasi WhatsApp.

Lala mendapatkan beberapa pertanyaan dari Majelis hakim, terutama jaksa penuntut umum serta penegasan dari penasehat hukum terdakwa, selain itu ada penyerahan bukti baru dari jaksa penuntut. Seelanjutnya sidang akan kembali di gelar pada 13 – April pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum ( JPU ).

Dalam keterangannya Lala menyampaikan bahwa, tidak akan menghadirkan saksi, dan alamat yang ia (Lala) cantumkan, ia (Lala) dapatkan dari bu mimi, dan lala membenarkan jika menerima fee sebesar 8,9 juta. Tapi bukan dari penjualan dari bu mimi.

Sedangkan jpu, mempersalahkan kenapa lala tidak mengecek kebenaran alamat yang di berikan mimi yang hanya lewat whastApp, dan menerima fee dari order penjualan dengan alamat fiktif yang di berikan ibu mimi, selain itu jpu juga mempermasalahkan klain atas nama Saman Wijaya, bahwa ada beberapa sale order di mana beberapa alamatnya tidak ada di jakarta, dan jpu mempermasalahkan juga Faktur tagihan tidak atas nama saman wijaya, tapi atas nama konsumen .

Sementara Heru Budhi Sutrisno.,S.H.M.H usai mengikuti sidang pada wartawan menyampaikan,” jadi apa yang di permasalahkan Jpu di ruang sidang tadi ‘sangat tidak relepan’, yang di katakan alamat fiktif itu memang di dapat dari mimi, jika memang fiktif kenapa lala yang harus bertanggung jawab. Sementara itu Mimi sendiri pernah datang langsung ke BNB dan bertemu dengan Lala pada waktu itu, Nah pada saat di penyidik Lala pernah menyampaikan itu, tapi penyidik mengabaikan kenapa mereka tidak cek untuk kebenaran alamat tersebut, dan fee yang di terima lala Rp.8,9 juta itu, pada bulan Agustus bukan hasil penjualan dari bu Mimi,” ujar Heru yang juga pernah jadi penyidik mabes polri.

Masih kata Heru,” untuk sales order Saman Wijaya betul adanya seperti di sampaikan Lala di sidang tadi, bahwa itu surat jalan order pesanan, dan tidak ada masalah dengan pembayaran atas nama siapapun toh itu di bayar sesuai barang yang di order atau di pesan, satu lagi alamat atau pembayaran yang di berikan konsumen selama ini tidak ada masalah dengan Lala, karna lala tidak pernah mengecewakan semua konsumen yang order barang dengannya,” tandasnya lagi.

“Saya rasa itu juga di lakukan sales marketing yang ada di BNB karna sekarang sudah canggih semua bisa di lakukan lewat gadjet, serta penerapan pasal, pada pasal 372 penggelapa apa yang di gelapkan lala , barang, barang apa, 374 dalam jabatan Lo apa sales marketing megang uang, terus pasal 378, apanya yang di tipu sama lala uang fee, wong uang fee itu bisa di berikan pada sales marketing harus persetujuan dan tanda tangan Martinus sebagai direktur operasional dan melalui rekening pribadi Martinus bukan rekening perusahaan, dan ini artinya dia bertanggung jawab juga,” tegas HBS ( Heru Budhi Sutrisno).

Sementara di sisi lain Tina ( kakak Lala ) menambahkan,” untuk konsumen atas nama William itu sudah melakukan pembayaran atas beberapa jenis barang yang di pesannya, namun di titipkan di gudang BNB karna belum akan di pakai atau dipasang, namun setelah sekian lama ketika William meminta Lala untuk mengecek barang tersebut ternyata barangnya sudah tidak ada di tempat ( gudang ), dan setelah di telusuri ternyata barang itu sudah di jual lagi oleh salah satu sales marketing BNB ,” ungkap Tina.

Masih keterangan Tina,” pak William mengetahui barang yang dititipkan dan sudah di bayar lunas tidak ada lagi meminta pertanggung jawaban pihak BNB, dengan mengembalikan uang sudah di bayarkan atau di transfer lewat rekening Andreas. semua order proyek beliau di berikan kepada Lala karna dia merasa kecewa pada pihak BNB. Nah kemungkinan dari masalah ini mereka tidak terima, makanya adik saya mereka pidanakan. Dan anehnya lagi kalau adik saya di berhentikan karna bermasalah mana mungkin adik saya dapat Fakklaring, Dia risen bukan di berhentikan. (Roni).

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!




Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional