Menu

Sidang Lanjutan Perkara 281, Agenda Pembacaan Pledoi Terdakwa

  Dibaca : 74 kali
Sidang Lanjutan Perkara 281, Agenda Pembacaan Pledoi Terdakwa

Cibinong, Rakyatbicara.co.id – Sidang perkara nomor. 281/pid.B/ 2020/ PN Cbi.atas terdakwa Fikri Salim adalah lanjutan perkara yang di tuduhkan padanya. Yang di gelar pengadilan negeri kelas 1A Cibinong berlangsung di ruang sidang utama kusuma atmaja di gelar secara virtual, kamis (2/72020).

Sidang yang di pimpin oleh majelis hakim Irfanuddin.sh.mh yang juga sebagai ketua pengadilan negeri Cibinong, Andri Falahandika.A.sh.mh dan Wungu Putro Bayu Kumoro.sh.mh hakim anggota, dan Bayu Ika Perdana sh, Dwinanda sh, Anita Dian Wardhani sh jaksa penuntut umum (JPU).

Sidang kali ini dalam agenda pembacaan pledoi dan atau pembelaan tergugat Fikri Salim yang di bacakan oleh kuasa hukumnya Alfian.sh secara garis besar menyatakan menolak semua tuduhan yang di sangkakan pada klaiennya dan memohon serta meminta majelis hakim membebaskan klaiennya.

Hal itu juga di sampaikan Alfian pada awak media usai sidang.

“Poin yang penting adalah saudara Soni itu tidak pernah memerintahkan untuk memalsukan, namun dasar Soni untuk memalsukan itu adalah inisiatif dari karyawan notaris, karena hal itu termuat dan dalam tercantum PUJB tahun 2016, sehingga Haryanto berprinsip bahwa ini sudah ada dasarnya, untuk kemudian di hapus dan di ganti atas nama Muamar yang kemudian di hapus oleh salah satu karyawan notaris dan kemudian tanda tangan di rubah oleh saudara Soni,” kata Alfian.

Masih dari Alfian, Di posisi ini sebetulnya faktanya di putar balikkan dengan adanya bahasa “TEMBAK” dasar dari perkara ini intinya dari perkara ini karena ada bahas tembak, tembak itu di definisikan oleh saudara Soni sama dengan kejadian- kejadian sebelumnya.

Sedangkan menurut saksi Ahli dr. Soma Wijaya bahwa bahasa tembak yang terkait dengan unsur menyeluruh harus di sebutkan secara tegas dan jelas dan tidak bisa di definisikan dengan arti yang lain tidak bisa bias harus jelas di sebutkan.

Nah jadi sebetulnya sudah jelas bahwa saudara Kiki ( Fikri Salim ) itu tidak pernah menyuruh, dia tidak pernah menerima apapun seperti yang di dakwakan oleh jaksa padanya, yaitu merugikan dr. Rudi 1,1 karena ada PUJB tahun 2016 dengan nilai 1,9 m yang nyatanya dalam akte jual beli total nilai pajak yang di bayarkan adalah sekitar 2, 880 kurang lebih seperti itu , di mana itu sesuai dengan apa yang di sampaikan pak Mardiyanto sebagai penjual adalah 2,9 milyar sehingga ini sangat tidak selaras apa yang di dakwakan padanya bahwa dia mengambil 1,1 milyar dari mana tidak masuk logika, karena apa yang di beli sesuai apa yang di bayarkan.

Kemudian di sini juga ada nilai -nilai yang di keluarkan dari jual beli yaitu komisi- komisi untuk mediator dan itu hal yang wajar, karena itu hal yang lazim dan biasa dalam transaksi jual beli tanah, dan ini memang menjadi kelalaian saudara Kiki tidak menyampaikan.

Definisi kata- kata tembak itu dari Kiki adalah untuk di percepat prosesnya, tapi di definisikan saudara Soni untuk di palsukan, karena di perkara ini Soni sudah beberapa kali memalsukan tanda tangan dari muamar jadi dia definisikan kata tembak itu sama, dan sekarang juga dia sudah jadi tersangka, Nah dari semua ini tuntutan ini salah alamat.

Oleh karenanya semua sudah saya sampaikan tadi di ruang sidang, dan saya rasa semua yang saya sampaikan tadi sudah maksimal, karna yang yang melakukan orang lain, yang memalsukan orang lain, yang menerima keuntungan orang lain.

Di tempat yang sama pihak keluarga ( Fenti ) juga menyampaikan, ‘saya sangat yakin adik saya tidak bersalah, adik saya tidak terima apapun, tidak melakukan apa-apa dan semua sudah di laporkan, mekelarnya, notaris semua,” kata Fenti kakak Kiki, Fikri Salim”.(roni)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional