Menu

FSGI Apresiasi Penundaan Asessmen Nasional Di Tengah Banyaknya Bencana Alam Pada Masa Pandemi Covid 19

  Dibaca : 52 kali
FSGI Apresiasi Penundaan Asessmen Nasional Di Tengah Banyaknya Bencana Alam Pada Masa Pandemi Covid 19

Jakarta, rakyatbicara.co.id – Pandemi belum bisa dikendalikan, namun disaat kasus covid 19 angkanya meningkat terus, beberapa wilayah di Indonesia mengalami bencana alam, diantaranya bencana banjir bandang, lonsor dan gempa bumi, seperti terjadi di Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Jawa Barat.

Saat ada bencana apapun, maka Anak-anak dan perempuan adalah kelompok rentan yang paling terdampak saat bencana, baik bencana alam maupun bencana non alam seperti pandemi covid 19 saat ini.

Oleh karena itu, saat bencana alam dan bencana non alam terjadi bersamaan seperti saat ini dialami beberapa wilayah di Indonesia, maka dapat dipastikan pemenuhan hak atas pendidikan dan pembelajaran akan sangat sulit dilaksanakan, mengingat pembelajaran tatap muka (PTM) tidak bisa dilakukan karena sedang pandemic, selain itu di wilayah gempa, bisa saja gedung sekolah mengalami kerusakan.

Sementara itu, ketika harus pembelajaran jarak jauh (PJJ) pasti banyak terkendala, mengingat buku-buku pelajaran dan alat tulis pasti ikut tertimbun reruntuhan bangunan atau rusak karena terendam air dan lumpur.

“Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengapresiasi Kemdikbud RI atas kebijakannya menunda pelaksaan Asesmen Nasional (AN) yang semula akan dilaksanakan pada Maret 2021 ditunda menjadi September-Oktober 2021.

Salah satu alasan utama penundaan adalah meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Indonesia dan terjadinya bencana alam disejumlah daerah pada masa pandemic”, ujar Heru Purnomo, Sekretaris Jenderal FSGI yang juga Kepala SMPN 52 Jakarta.

Lakukan Pendataan Guru dan Siswa Yang Menjadi Korban Bencana Alam Dari hasil pemantauan jaringan guru FSGI di wilayah Indonesia Timur, tepatnya di Sulawesi Barat, pada lokasi Gempa Bumi, diantaranya di Kabupaten Majene dan Mamuju.

Gempa besar tersebut membuat banyak pengungsi khawatir jika harus mengungsi di gedung-gedung, mereka lebih merasa aman dan tenang ketika mengungsi di tenda-tenda darurat, padahal jumlah tenda sangat minim dan hujan deras kerap turun paca gempa terjadi.

“Pada saat bencana gempa terjadi, padahal pandemic covid-19 belum dapat dikendalikan, maka ancaman kesehatan dan keselamatan menjadi ganda.

Menjaga jarak sangat sulit ketika harus berdesakan di tenda darurat, apalagi ketika jumlah anak-anak di lokasi pengungsian banyak,” ungkap Retno Listyarti, Dewan Pakar FSGI.

Retno menambahkan, “Pemerintah Daerah sedang mendata jumlah korban meninggal dan terluka, namun karena kondisi lapangan (ada desa yang belum dapat dijangkau karena terisolir), serta banyak pegawai pemerintah yang juga menjadi korban, maka pendataan sedikit terhambat, termasuk pendataan pendidik dan peserta didik yang menjadi korban.

Dinas Pendidikan Provinsi dan kabupaten/kota di Sulawesi Barat belum merilis data berapa pendidik, tenaga pendidikan dan peserta didik yang selamat dan yang menjadi korban terluka atau mungkin meninggal dunia.

Yang menjadi konsen FSGI adalah keselamatan pendidik/guru, jika para guru selamat dalam musibah bencana alam tersebut, dan jaringan internet kembali pulih seperti semula, serta para guru yang mengungsi masih memiliki alat daring, maka para guru dapat membantu pendataan siswanya yang menjadi korban melalui grup whatsApp kelas.

Selain itu, para guru juga dapat memprediksi kapan saat yang tepat melakukan pembelajaran jarak jauh pasca gempa, menyesuaikan kondisi para siswanya.

“Dalam situasi di pengungsian yang kurang nyaman, biasanya anak-anak senang bersekolah untuk hiburan dan mengisi waktu mereka sehari-hari”, pungkas Retno.

Rekomendasi

1. FSGI mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah pemenuhan hak pembelajaran dengan menetapkan prioritas.

Dalam situasi pasca bencana seperti terjadi di Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat, Bagi peserta didik yang berada di kelas akhir pada setiap jenjang pendidikan, perlu menjadi prioritas terkait pemenuhan hak atas pembelajaran maupun ujian sekolah untuk dapat naik ke jenjang pendidikan berikutnya, misalnya TK ke SD; SD ke SMP; dan SMP ke SMA/SMK.

2. FSGI mendorong Dinas Pendidikan dan Sekolah-sekolah untuk menggunakan kurikulum khusus dalam situasi darurat terkait materi atau kisi-kisi ujian akhir sekolah Kerena waktunya sudah dekat, maka dibutuhkan penyiapan dari sekarang, seperti : materi ujian akhir sekolah untuk peserta didik kelas 6 SD, kelas IX SMP dan XII SMA , khusus yang berada di wilayah bencana, yang akan mengikuti ujian akhir sekolah beberapa bulan lagi.

Penting dan mendesak dipikirkan mekanisme ujian, materi ujian, dan teknis pelaksanaannya oleh Kemdikbud RI dan Dinas Pendidikan di wilayah-wilayah bencana.

3. FSGI mengusulkan pendidikan kebencanaan diperkuat dalam kurikulum dengan disertai simulasi rutin di sekolah-sekolah, mengingat wilayah Indonesia rawan bencana, terutama gempa bumi, mengingat lokasi geografis Indonesia yang berada di atas lempeng bumi yang terus bergerak secara alamiah.

Dengan memberikan pendidikan kebencanaan disertai simulasi rutin, maka peserta didik yang merupakan generasi penerus bangsa akan mewarisi kesiapan dan mitigasi bencana kedepannya.

4. FSGI mengusulkan para pengungsi yang berprofesi guru dan kondisinya sehat jasmani dan psikis, dapat membantu melakukan trauma healing kepada anak-anak dipengungsian, meski bukan muridnya di sekolah.

Tentu saja, para guru tersebut dapat diberdayakan dengan dilatih terlebih dahulu oleh para relawan yang datang ke posko posko pengungsian.

Jakarta, 23 Januari 2021 Heru Purnomo, Sekjen FSGI Retno Listyarti, Ketua Dewan Pakar FSGI

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!




Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional