Menu

Prihatin, Ditengah Gemerlapnya Kehidupan Kota Metro, Pengrajin Batu Nisan Butuhkan Bantuan

  Dibaca : 50 kali
Prihatin, Ditengah Gemerlapnya Kehidupan Kota Metro, Pengrajin Batu Nisan Butuhkan Bantuan

Lampung Timur, rakyatbicara.co.id – Prihatin, ditengah gemerlapnya kehidupan Kota Metro ternyata bantuan diharapkan oleh Budiyanto warga Jalan Veteran, Hadi Mulyo Barat, Metro Pusat, Kota Metro, Lampung.

Nantinya, bantuan dana tersebut akan digunakan olehnya sebagai tambahan modal untuk biaya kegiatan usahanya sebagai pengrajin batu nisan sejak 1997.

“Pekerjaan saya ini bikin kerajinan batu nisan mulai dari tahun 97, sejak saya masih bujang dulu sampai sekarang,” tutur Budiyanto pada Selasa, 23 Maret 2021 saat ditemukan sedang dalam keadaan sibuk bekerja.

Hasilnya, hanya cukup untuk memenuhi biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan menyekolahkan anak.

“Ya hasilnya cukup untuk harian ajalah untuk anak sekolah, terus harapannya ya kalau ada ini bantuan untuk tambah modal,” katanya.

Selain urusan bertani, Budiyanto juga menggarap tanah peladangan milik mertua lebih kurang seperempat hektar.

“Selain itu saya sambil tani, tapi ya cuman sedikit saya ngegarap tanah mertua itu sedikit nggak ada seperapat hektar,” terangnya.

Ia juga mencari rumput untuk pakan ternak kambing peliharaannya tujuan melatih anak keduanya beternak.

“Sambil mencari rumput (untuk pakan) melihara kambing juga untuk sambil melatih anak saya yang masih SMP, biar ada kegiatan gitu,” jelasnya.

Selama menikah, bersama istrinya Budiyanto membina rumah tangga dan telah dikaruniai tiga orang anak.

“Anaknya tiga, yang pertama sudah lulus Aliah udah dua tahun udah kerja di rumah makan di 16 C, yang nomor dua laki, masih SMP kelas satu, nomor tiga laki masih TK,” urainya.

Selama ini ia tidak pernah menerima bantuan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah atau Pemerintah Kota Metro untuk biaya usaha yang digelutinya.

“Nggak ada bantuan kalau dari, nggak ada perhatian dari Pemerintah, (sangat berharap bantuan dari Pemerintah untuk modal usaha) iya,” ucapnya.

Lebih memprihatinkan lagi, pekarangan maupun rumah tempat usaha Budiyanto tersebut bukanlah milik pribadinya melainkan hanya menempati saja.

(Lokasi usaha maupun rumah bukan hak miliknya) bukan, saya itukan orang pendatang perantauan, (milik siapa) milik pak Samsu Salman, (nyewa) nggak, dia nggak menyewakan,” ujarnya.

Berhubung mengenal dan memiliki hubungan baik dengan pemilik rumah maka ia sekeluarga menempati rumah permanen dan strategis tersebut.

“Cuma karena udah kenal lama itu, dulu pernah sakit saya diminta tolong bantu dirumah sakit sama istri saya, jadi mungkin karena ingat jasanya itu paling kayak gitu,” cetusnya.

Bahkan dulu terhitung 24 tahun silam ia pernah ngontrak rumah disaat pertama kali kehadirannya pada bulan Maret 1999 dilingkungan tersebut.

“Dulu saya pernah ngontrak disebelah situ, yang disitu, jadi dilingkungan sini, saya masuk kesini udah sekitar pokoknya saya masuk ke 24 ini dari tahun 99 bulan Maret,” tambahnya.

“Kalo dulu yang pertama saya di selikur (21) masih ikut kakak ipar, (apa ucapan kepada pemilik rumah) saya ucapkan terimakasih karena istilahnya dianggap saudara gitu lo dianggap keluarga,” sambungnya.

Selama pemilik rumah masih hidup tak mungkin menyewa dan belum diketahui kelak dikemudian hari, untuk sementara anak-anak pemilik rumah berada di kejauhan.

“Selama dia masih hidup udah nggak usah nyewa, kecuali kalau udah nggak ada ya kan hitungan sama anaknya, anak-anaknya kan jauh-jauh semua,” tutup Budiyanto.

Kini bulan Maret 2021 Budiyanto berdomisili dilingkungan tersebut terhitung sejak bulan Maret 1999 selama 22 tahun silam.

Sedangkan memulai usaha sebagai pengrajin keramik itu digelutinya sejak tahun 1997 selama 24 tahun yang lampau. (Red/RK).

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!




Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional