Buku Tertua di Dunia Islam

Suda Tau Belum Buku Tertua di Dunia Islam

Dunia Islam sepatutnya bangga dan bersyukur karena setiap tahun dunia literasi mereka disegarkan oleh pameran-pameran buku berskala internasional yang diselenggarakan oleh banyak negara. Sebut saja Islamic Book Fair (IBF) yang setiap tahun digelar di Indonesia oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta yang diklaim sebagai pameran buku terbesar di Asia Tenggara, atau Riyadh International Book Fair yang diadakan di Riyadh, Arab Saudi, sebagai acara sastra dan budaya terbesar di Timur Tengah yang paling ditunggu-tunggu karena menghadirkan simposium budaya dan sastra, pembacaan puisi dan seni, panel diskusi, dan berbagai lokakarya di bidang seni, membaca, menulis, penerbitan buku dan penerjemahannya ke berbagai bahasa asing.

Namun ada satu pameran yang tak kalah pamornya. Bahkan sah-sah saja jika disebut pameran satu ini sebagai Pameran Buku Islami terbesar di dunia secara mutlak. Pameran ini adalah Cairo International Book Fair (CIBF) yang diselenggarakan di ibukota Mesir, Kairo. Pameran buku ini merupakan acara pameran buku terbesar dan tertua di dunia Arab. Ia selalu menarik ratusan penjual buku dari penerbit-penerbit ternama dan setidaknya 2 juta pengunjung dari seluruh dunia datang berkunjung setiap kali acara ini diadakan.

Mengutip dari wikipedia, Cairo International Book Fair sejak pertama kali diadakan oleh General Egyptian Book Organisation pada tahun 1969 M di Cairo International Fair Grounds, Madinat Nasr, tidak jauh dari Unversitas Al-Azhar Kairo, selalu mengundang berbagai macam penerbit terbaik dari lokal dan luar negeri untuk menghadirkan buku-buku dan kitab-kitab Islam dengan kualitas terbaik. Bahkan pada tahun 2006, CIBF dinobatkan sebagai pameran buku terbesar di dunia nomor dua, persis di bawah Frankfrut Book Fair yang menempati posisi pertama. CIBF juga dinobatkan sebagai pameran buku terbesar di Dunia Arab.

Hal di atas tentu tidak terlalu mengejutkan jika kita melihat Kairo dan Mesir pada umumnya yang digelari sebagai Ummu ad-Dunya (Ibu Dunia) karena peradabannya yang sangat tua. Lebih-lebih sebagai pihak penyelenggara, General Egyptian Book Organisation pertama kali mengadakan pameran tersebut pada tahun 1969 M adalah untuk memperingati bertepatannya 1000 tahun (10 abad) berdirinya kota Kairo. Dalam sejarahnya, tujuan diadakannya CIBF ini adalah untuk memperkenalkan dan mengiklankan buku dan membuka pasar baru bagi penerbit Mesir. Namun, tak disangka, khazanah peradaban Mesir di kancah sejarah peradaban manusia selalu menarik dan memikat perhatian masyarakat internasional hingga CIBF selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.

Sempat terhenti karena pandemi Covid-19, CIBF untuk ke-52 akhirnya diadakan kembali meski mengalami keterlambatan pada bulan Juni 2021, dan CIBF ke-53 pada tahun 2022 pada jadwal semula di bulan Januari 2022. Para pengunjung yang hendak masuk ke pameran harus membayar tiket seharga lima Pounds Mesir atau setara empat ribu Rupiah. Mengutip dari jeumalaamal.org, pada tahun ini, lokasi CIBF memiliki area yang luas dan terdiri dari empat gedung besar. Di setiap gedung terdapat ratusan stand. Gedung pertama dan kedua didominasi oleh penerbit-penerbit Mesir, sedangkan gedung ketiga dan keempat diisi oleh perpustakaan negara-negara lain seperti Arab Saudi, Suriah, Lebanon, Iraq, Spanyol, Rusia, Prancis, serta Jepang. Penampilan dari maskot, budaya luar, dan musik, serta tema acara yang dibawa berupa Fil Qiraati Hayaatun (di dalam membaca ada kehidupan) menambah kemeriahan acara pameran buku.

Dilihat lebih jauh, kemeriahan dan kemegahan acara CIBF ini menegaskan posisi Islam yang hari ini terwakilkan oleh negara-negara Arab dan sebagian negara Asia, sebagai rahmatan lil ‘alaamin, sumber kasih sayang untuk semesta alam. Bahwa untuk menjaga alam semesta ini tetap berjalan seimbang, dibutuhkan ilmu dan wawasan yang tidak hanya terbatas mencakup satu daerah atau teritori tertentu, melainkan juga seluruh dunia dan bangsa yang ada saat ini. (MSB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.