Tumpukan Sampah Disudut Kompleks Pertokoan Milik Pemerintahan Desa Kota Raman Dikeluhkan

Tumpukan Sampah Disudut Kompleks Pertokoan Milik Pemerintahan Desa Kota Raman Dikeluhkan

Tumpukan Sampah Disudut Kompleks Pertokoan Milik Pemerintahan Desa Kota Raman Dikeluhkan

Lampung Timur, rakyatbicara.co.id Pemandangan tak indah disertai bau yang tak sedap berasal dari tumpukan sampah tepat didepan pintu MCK di pojok kompleks pertokoan milik Pemerintah Desa Kota Raman Kecamatan Raman Utara.

Sehingga, hal itu dikeluhkan oleh para pedagang dan pengunjung, selain itu air limbah juga tergenang akibat tersumbat bahkan sampah hanya menumpuk, akan tetapi juga sampai kedalam sumur.

Sedangkan air sumur digunakan untuk berwudhu saat akan menunaikan ibadah sholat di mushola yang disediakan selain berfungsi sebagai tempat untuk mandi, cuci dan kakus (MCK).

Sementara, setiap pedagang dipungut uang retribusi sebesar Rp.5 ribu setiap setiap hari yang dilakukan oleh Raden sebagai petugas sekaligus Perangkat Pemerintahan Desa Kota Raman.

“Sampahnya nggak dibersihin, padahal pemilik pedagang ditarik uang sampah lima ribu sehari,” keluh seorang pedagang yang dijumpai saat sedang menunggu anaknya buang air besar (BAB) di MCK pada Senin, 1 Agustus 2022 sekitar jam 10.00 WIB.

Tak hanya itu, air limbah yang berasal dari MCK seharusnya mengalir dengan lancar akan tetapi tergenang akibat tersumbat sampah yang menumpuk.

“Air comberan menggenang karena tersumbat seharusnya mengalir kesana mengikuti siring, itu sampahnya sampai masuk kedalam sumur,” ujar pedagang tersebut.

Terdapat 22 pedagang toko dan lebih kurang 10 pedagang emperan setiap harinya dipungut uang retribusi.

“Kalau toko ada 22, emperan ada sekitar 10, semuanya sama ditarik uang sampah lima ribu, semua buang sampah dipojok itu,” kata pedagang nasi berinisial, Su.

Seperti biasanya, uang retribusi dipungut oleh Raden sepulang dari melaksanakan tugas di Kantor Desa Kota Raman selaku perangkat pemerintahan Desa setempat pada sekitar pukul 12.00 WIB siang.

“Biasanya pak Raden narik uang salar sehabis Dhuhur sekalian dia pulang dari ngantor di Balai Desa Kota Raman,” pungkasnya.

Menurut seorang penjual jasa yang pernah menempati kios/los aset Desa Kota Raman tersebut, sewa kios/los Rp. 60 juta selama 10 tahun dan membayar uang retribusi sebesar Rp.5 ribu perhari.

“Biaya sewa toko sekitar enam puluh juta setahun, dalam sehari kita ngumpulin uang berapa, warung makan kadang-kadang dimakan sendiri,” tutur seorang penjual jasa diluar kompleks pertokoan tersebut berinisial, Ar.

“Uang retribusi ditarik lima ribu setiap harinya, dua ribu untuk uang sampah, tiga ribu untuk retribusi lainnya,” ujarnya.

Ketika akan dikonfirmasi ditempatnya bertugas, Raden petugas pemungut uang retribusi tidak dapat dijumpai, suasana Kantor Desa Kota Raman tampak sepi padahal hari Senin, 1 Agustus 2022 hari pertama waktu masuk kerja bahkan waktu baru menunjukkan jam 11.30 WIB.

(Laporan: Ropian Kunang)

Tumpukan Sampah Disudut Kompleks Pertokoan Milik Pemerintahan Desa Kota Raman Dikeluhkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.