Pilunya Kuli Panggul, Upah Masih Minim Padahal Harga Barang Kian Melambung

Pilunya Kuli Panggul, Upah Masih Minim Padahal Harga Barang Kian Melambung

Lampung Timur, rakyatbicara.co.id – Upah atau biaya jasa 11 orang tenaga kerja buruh kuli panggul di Pusat Perbelanjaan Pasar Kota Desa Pasar Sukadana Kecamatan Sukadana masih sangat minim tidak sesuai bahkan sangat jauh dari kebutuhan hidup layak.

Meskipun saat ini, bersama-sama secara umum kita ketahui bahwa harga barang-barang hasil produksi pabrikan maupun non pabrikan ikut juga naik, melambung pasca Pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Setiap kerja, masing-masing kuli panggul itu hanya memperoleh penghasilan rata-rata sebesar Rp.35 ribu. Kecuali terdapat bongkaran barang muatan mobil truk berupa pupuk atau semen, setidaknya penghasilan mereka sedikit meningkat dengan nilai mencapai Rp.100 ribu perorang.

Hal itu diketahui setelah mendengarkan cerita sedih para tenaga kerja buruh kuli panggul barang berlokasi di kompleks pusat perbelanjaan Pasar Kota Desa Pasar Sukadana Kecamatan Sukadana.

“Pasar dulu disana (dipinggir sungai Way Pegadungan Sukadana) disini masih sawah tahun enam puluh, tujuh puluhan, dulu (jual-beli) hasil bumi disini semua, pembelinya almarhum Isa, Haji Yahya dan Sarkawi,” cerita Rasyid warga Dusun Bumi Jaya Desa Pasar Sukadana saat dijumpai sedang istirahat sembari nyeruput kopi bareng-bareng teman seprofesinya di trotoar di pinggir Jalan Soekarno-Hatta didepan kompleks pusat perbelanjaan setempat pada Selasa, 27 September 2022 jam 08.00 WIB pagi.

Total keseluruhan yang berprofesi jadi buruh kuli panggul barang berjumlah sebanyak 11 orang. Tapi keseharian yang bekerja jumlahnya hanya tujuh sampai delapan orang.

“Kalau semua sebelas orang, tapi jarang (kerja semua) kadang delapan, kadang tujuh, (kondisi) pasarnya kayak gini-ginilah (sepi) beneran, (ramai ketika letak Pasar berada bagian dalam) ya masih mendingan disana (pasar baru ramai) disini walah, ampun, (padahal sekarang letak pasar dipindahkan didepan pinggir jalan protokol) kelebaran pasarnya aja,” keluh tenaga kerja kuli panggul tersebut.

Apalagi terhitung sejak bulan Juli 2022 mereka tidak pernah lagi bongkar barang berupa pupuk bersubsidi, sedangkan bongkar barang semen sebulan sekali.

“Ini pupuk nggak ada yang masuk, tau (mungkin nanti) bulan Januari (2023 pupuk bersubsidi) mulai masuk lagi, tambah sulit,” urainya.

Dalam sehari-hari penghasilan mereka masing-masing hanya antara Rp.30 ribu sampai dengan Rp.40 ribu jelas sangat jauh dari kebutuhan hidup layak.

“Alah, paling-paling (dapat uang) tiga puluh (ribu) tiga lima, empat puluh, kalau mikirin untuk biaya anak sekolah cukup apa, jaman sekarang kalau dipikirin, (kerja sampai jam 12.00 WIB) ya, kalau sore nggak (mungkin) ada masuk mobil lagi,” terang mang Rasyid panggilan akrab lelaki asli suku Serang asal Propinsi Banten.

Terkecuali, selain pupuk juga diselingi dengan bongkar barang material bahan bangunan berupa muatan semen yang dapat menambah penghasilan mencapai seratus ribuan lagipula itupun belum tentu dalam sebulan.

“Kalau ada semen iya, (mencapai berapa penghasilan bongkar semen) kadang-kadang seratus dapet dan lain-lainnya, cuman itu nggak mesti sebulan sekali,” jelasnya.

Ia bekerja menjadi buruh kuli panggul sejak masih berusia lajang, andaikan dirinya seorang aparatur sipil negara (ASN) telah selayaknya pensiun.

“Semenjak masih bujangan, kalau (ASN) itu (mungkin) udah pensiun paling,” ungkapnya.

Seandainya mang Rasyid tidak memiliki usaha tani atau bercocok tanam tidak mungkin akan tercukupi biaya hidupnya sekeluarga besar.

“Bener itu, (kalau) sekarang-sekarang ini sudahlah, selain (tani) itu, Alhamdulillah cukup-cukup aja. Untung nggak ada lagi urusan saya (anak-anak) sudah mentas (nikah) semua (jumlah anak) empat udah berkeluarga semua sudah misah-misah,” tutup ayah empat anak itu.

Partner kerja Rasyid, Baerah warga Dusun Tegal Rejo Desa Pasar Sukadana menjadi kuli panggul sejak tahun 1982 setelah mengalami musibah kebakaran rumahnya.

“Saya mulai kerja (jadi kuli panggul) di Pasar (Desa Pasar Sukadana) tahun depan puluh dua disini, sehabis rumah saya kebakaran, habis semua habis-habisan,” tutur Baerah.

Berhubung tak ada pilihan, ia terpaksa menjual jasa bekerja menjadi buruh kuli panggul barang, selain itu diselingi kerja jadi buruh tukang bangunan.

“Nggak ada kerjaan lain, ya udah kerja di pasar aja, semuanya kerja di pasar, ya nggak ada (pilihan) lagi, orang dulu mah (kerjaan) udah abis, ya kalau ada (selingan kerja) nukang-nukang,” cetusnya.

(Ropian Kunang)

Pilunya Kuli Panggul, Upah Masih Minim Padahal Harga Barang Kian Melambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *